PERSAINGAN HIDUP : ANTARA LETIH DUNIA DAN LELAH AKHIRAT

Setiap kali kembali dari Jakarta menuju Bogor di sore atau malam hari dengan menumpang KRL (Kereta Rel Listrik/Commuter Line), terlihat wajah-wajah letih di kereta setelah berjibaku bersaing hidup di Ibukota. Ada yang terpejam di kursi, ada yang menatap kosong ke luar jendela, tak sedikit pula yang masih sibuk menekan ponsel mengurus pekerjaan yang belum selesai. Persaingan hidup—entah untuk meraih target, mempertahankan posisi, atau sekadar menyambung napas ekonomi—telah menguras cadangan energi mereka. Namun, pernahkah kita bertanya: ke mana sebenarnya arah persaingan ini?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hakikat persaingan duniawi dalam firman-Nya:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam harta dan anak-anak…” (QS. Al-Hadid: 20)

Namun Allah tidak membiarkan hamba-Nya tanpa arah. Maka Dia pun memerintahkan persaingan yang sesungguhnya:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS.3 Al-Baqarah: 148)

Rasulullah ﷺ pun mengajarkan bentuk persaingan yang diberkahi. Beliau bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (dengki) kecuali terhadap dua perkara: seseorang yang diberi Allah harta lalu ia habiskan (infakkan) di jalan kebenaran, dan seseorang yang diberi Allah hikmah (ilmu) lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, persaingan yang terpuji adalah berlomba dalam infak dan ilmu—bukan sekadar menumpuk harta atau mengejar posisi.

Nasihat berharga datang dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menulis:

إِنَّ لِلْقُلُوبِ شَهْوَةً وَإِرَادَةً، فَإِذَا أَقْبَلَتْ عَلَى اللَّهِ وَالتَّنَافُسِ فِي الْقُرُبَاتِ سَعِدَتْ، وَإِذَا انْصَرَفَتْ إِلَى الدُّنْيَا شَقِيَتْ

“Sesungguhnya hati memiliki keinginan dan hasrat. Jika ia menghadap kepada Allah dan berlomba dalam ketaatan, ia akan bahagia. Namun jika ia berpaling kepada dunia, ia akan celaka.” (Madarij as-Salikin)

Betapa indahnya persaingan yang membawa kebahagiaan, bukan kehancuran batin.

Sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu memberikan teladan nyata. Ketika hijrah ke Madinah, beliau tidak memiliki apa-apa. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’ yang kaya. Sa’ad menawari separuh hartanya, tetapi Abdurrahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan ke pasar. Ia pun berdagang, bekerja keras, dan sukses. Namun dalam kesibukan berdagang, Abdurrahman tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dan sedekah. Suatu ketika ia kelelahan sepulang berdagang, lalu berkata, “Aku tidak ingin menjadi beban atas siapa pun. Namun aku jadikan persaingan dalam berniaga ini sebagai ladang untuk bersedekah menuju surga.” Hingga akhir hayatnya, Abdurrahman dikenal sebagai saudagar kaya yang tetap sederhana dan ringan tangan.

Saudaraku, persaingan hidup di stasiun KRL, di kantor, di pasar, adalah keniscayaan. Namun jangan biarkan letih dunia membuat kita lupa akan letih yang lebih bernilai: berlomba meraih ridha Allah. Niatkan setiap tetes keringat kerja sebagai ibadah, dan jadikan keletihan fisik sebagai saksi kesungguhan kita mencari rezeki halal—tanpa meninggalkan persaingan hakiki: fastabiqul khairat. Semoga Allah mudahkan langkah kita.

Wallahua’lam bish showwab(Sumber: Inayatullah A. HasyimKereta( Commuter Line, 06 April 2026.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top