Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Al-Lail: 5-7
Mengimani Takdir Baik dan Buruk
قَالَ الْبُخَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَقِيع الغَرْقَد فِي جِنَازَةٍ، فَقَالَ: “مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتب مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ”. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ؟ فَقَالَ: “اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ”. قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ: {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى} إِلَى قَوْلِهِ: {لِلْعُسْرَى}
Imam Bukhari mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, dari Ali Bin Abu Talib Radhiyallahu ‘Anhu. bahwa ketika kami sedang bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di Baqi’ul Garqad saat mengebumikan jenazah, maka beliau bersabda: Tiada seorang pun dari kalian melainkan telah ditetapkan kedudukannya di surga dan kedudukannya di neraka.
Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kita bertawakal saja?” Rasulullah bersabda: Berbuatlah, maka tiap-tiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia diciptakan untuknya.
Kemudian Rasulullah membaca firman-Nya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Al-Lail: 5-7) Sampai dengan firman-Nya: (jalan) yang sukar. (Al-Lail: 10)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:
1- Allah menciptakan takdir, baik buruk maupun baik, syurga atau neraka dsb.
2- Allah memudahkan hamba untuk menjalankan takdirnya.
3- Tapi perlu ingat bahwa setiap orang tidak akan tahu takdir apa yang menimpanya, apakah baik atau buruk ? Karena tidak tahu, maka kita sebagai hamba hanya menjalankan perintah secara zhahir. Contoh : Allah memerintahkan kita shalat. Lalu kita berusaha semaksimal mungkin untuk shalat dengan baik sesuai syarat dan rukunnya. Setelah kita shalat sesuai perintah, apakah kita tahu shalat kita diterima ? Wallahu a’lam.
4- Tegasnya, kita sebagai hamba Allah berkewajiban menjalankan perintah secara zhahir (ikhtiar dan berdoa) dan amalan batin menyerahkan hasilnya (takdirnya) kepada Allah ( tawakkal). Ingatlah bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Artinya, Allah memberi ganjaran berupa syurga dan kebaikan bagi hamba yang taat.
5- Indikator sesorang ditakdirkan besuk masuk surga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-Lail : 5-7, sebaliknya indikator seseorang besuk masuk neraka surah Al-Lail:8-10.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj [22] : 70).
2- Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.(QS. At Takwir [81] : 29).
3- Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُون
Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaffaat [37] : 96).
4- Setiap peristiwa yang ditakdirkan terjadi pada diri seorang hamba pastilah Allah selalu adil dan tidak pernah zalim kepadanya, karena Allah menentukan takdir bagi seorang hamba selalu sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya.
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya” (Fushshilat:46)( Sumber:Oleh Ustadz Muslih Rosyid)